“Seorang guru yang bisa membangkitkan sebuah perasaan untuk berbuat satu kebaikan, untuk menciptakan satu puisi indah, menghasilkan lebih banyak daripada seorang guru yang memenuhi kenangan kita dengan berderet-deret benda nyata, yang digolongkan berdasarkan nama dan bentuk.”
(John Wolfgang Von Goethe)
Aduh, bagaimana ini. Aku grogi bukan main. Kenapa aku menjadi salah tingkah begini, saat pak Dawam menghampiriku. Ia hendak mengembalikan tugas kami, yaitu puisi yang kami buat. Aku tak sabar ingin melihat nilaiku. Harap-harap cemas saat aku hendak melihatnya. Jangan-jangan nilaiku jelek.
Padahal aku sudah berusaha mati-matian membuatnya. Aku bekerja ekstra keras membuat kumpulan puisiku, berbaring di ranjangku setiap malam selama satu bulan, dengan cermat mengukir kata-kataku supaya setiap puisi menyanyi, menari, dan mengalir. Seminggu yang lalu kami disuruh mengumpulkan puisi tersebut. Dan saat ini adalah pengembalian puisinya dengan disertai catatan, komentar dan nilainya.
* * *
Pak Dawam adalah seorang dosen di bidang sastra. Ia sangat cerdas dan bersemangat. Aku sedikit jatuh hati padanya. Selain kedua hal itu, ada satu lagi yang menjadikannya sempurna di mataku, yaitu cara mengajarnya yang luar biasa berwibawa dan berkesan. Aku yakin, ini bukan hanya menurutku saja, teman-temanku yang lain juga bicara seperti itu. Aku sering duduk di belakang jika pada saat jam mata kuliah pak Dawam. Aku malu, walau sebenarnya aku ingin ia memperhatikanku. Ah, aku ini memang mahasiswi yang aneh.
Aku ingin menceritakan beberapa pengalaman yang berkesan pada saat mata kuliah pak Dawam, dimana pertemuan itu adalah awal aku menyukai dunia puisi.
Pengalaman pertama, yaitu saat kami membahas puisi cinta karya Sapardi Djoko Damono. Tak disangka waktu itu tiba-tiba pak Dawam menyuruhku membaca puisi itu. Kontan saja aku kaget, mengapa ia memilihku untuk membacanya padahal aku duduk di belakang? Keringat dingin mulai bercucuran, dan tangan gemetaran. Puisi itu puisi cinta, dan aku tak bisa mengelak untuk membayangkan siapa kekasih itu. Sebelum aku membacanya ia berpesan bahwa agar puisi itu bisa dijiwai maka aku harus membayangkan untuk siapa puisi itu. Teman-teman menyorakiku. Sesaat setelah hening aku pun mulai membacanya dengan sangat memalukan. ”A...a...ku i..nginn mencin...taimu. Aduh pak, aku tak bisa” ujarku. Aku sungguh memalukan melakukan hal sekonyol itu. Semuanya menertawakanku.




Filed Under :
Jumat, 06 Mei 2011
